165 UKM Sleman Berpotensi Besar untuk Lakukan Ekspor ~ Tuminesia - Media Inspirasi Bisnis Indonesia //-----Scripts Komen Facebook -------
//---------


Baru Terbit

Subscribe Tuminesia dan dapatkan inspirasi terupdate dari e-mailmu. Daftarkan di sini ↓

165 UKM Sleman Berpotensi Besar untuk Lakukan Ekspor

02 October 2020
165 UKM Sleman Berpotensi Besar untuk Lakukan Ekspor


#Peristiwa - Bupati Sleman, Sri Purnomo, memaparkan daerahnya mulai fokus pada potensi ekspor dari produk UKM-UKM yang ada di sana.


“Dari seluruh pelaku UKM yang ada di Sleman, 98,7% di antaranya fokus untuk penguatan pasar domestik dan 1% atau 165 UKM memiliki potensi besar untuk melakukan pasar ekspor. Potensi ini harus difokuskan dan dikembangkan mengingat banyak produk asal Sleman yang sudah diakui pasar internasional,” kata Sri Purnomo, pada gelaran webinar Kiat IKM di Era Pandemi: Sukses Dalam Negeri, Siap Tembus Pasar Ekspor Luar Negeri, kamis (01/10/2020).


Menurut Sri, sejak 2005 sudah ada beberapa produk asal Sleman yang berhasil merambah pasar internasional. Salah satunya produk peralatan kesehatan MAK Technologies yang diekspor ke 40 negara.


Apalagi pada masa pandemi ini, MAK Technologies semakin kuat posisinya karena banyaknya permintaan pasar. Artinya, kata Sri, sudah ada kepercayaan pasar internasional terhadap produk asal Sleman.


Sekarang, tegas Sri, adalah waktu yang tepat untuk mengoptimalkan potensi produk-produk lain, terutama produk UKM.


Adapun UKM potensial ekspor di Sleman terbagi dari lima industri, yaitu industri makanan, minuman, kerajinan eksotis, furnitur, dan kerajinan berbahan dasar natural.


Dari makanan, ada Gudeg Kaleng Bagong dan Abon Daun Emas. Kedua produk kuliner ini sudah menjadi identitas Sleman dan menurut Sri, sudah seharusnya melakukan perluasan pasar.


“Sleman juga memiliki kopi khas. Salah satunya Kopi Merapi yang juga menjadi daya tarik wisata,” tambahnya.


Sementara itu dari kerajinan eksotis, Sleman juga terkenal dengan pengolahan limbah kayu dan kerajinan bambu. Begitupun furnitur, juga memiliki potensi, mengingat banyaknya masyarakat yang berprofesi sebagai pengrajin mebel.


Share komoditas mebel kayu Sleman pada tahun 2020 sebesar 6,8%, banhkan lebih tinggi dari peralatan medis di angka 6,1%.


Meski begitu, peluang tinggi itu perlu diimbangi langkah-langkah tepat para pelaku UKM untuk memastikan produk mereka bisa bersaing di di pasar internasional.


Sri menjelaskan, sebelum melakukan ekspor, pelaku UKM harus memahami pasar yang akan dituju. Untuk itu dibutuhkan survey pasar agar pelaku bisa membaca kondisi pasar, apakah ada kompetitor produk sejenis, hingga standar mutu barang yang ditetapkan oleh pasar.


“Baginya, setelah berhasil membaca kondisi pasar, pelaku UKM bisa menentukan kualitas dan kapasitas produk yang kira-kira bisa bersaing dengan pasar ekspor," kata Sri seperti dilansir dari Marketeers.


“Selain itu, pelaku UKM juga tidak bisa bersikap pasif. Mereka harus berani memasarkan produknya dengan mengikuti ekshibisi hingga memaksimalkan kanal digital untuk memasarkan produk,” tutup Sri.


Tuminesia - Media Inspirasi Bisnis Indonesia