Usai Coronavirus, Ekonomi Sirkular Merupakan Masa Depan Kita ~ Tuminesia - Media Inspiratif Indonesia //-----Scripts Komen Facebook -------
//---------


Baru Terbit

Usai Coronavirus, Ekonomi Sirkular Merupakan Masa Depan Kita

03 June 2020

Profesor Philip Kotler


Tuminesia.com -
Menurut bapak pemasaran modern dunia, Profesor Philip Kotler mengatakan saat ini menjadi waktu yang tepat untuk memikirkan bagaimana ekonomi sirkular (circular economy) dapat diaplikasikan sebagai bagian dari the new normal.

“Setelah kita menang menghadapi COVID-19, kita akan menghadapi perubahan iklim, masalah mengenai polusi, dan pemanasan global. Sudah saatnya kita memiliki tujuan bisnis yang dapat menyentuh kehidupan konsumen, karyawan, dan masyarakat,” kata Kotler pada acara Asia Marketing Day 2020.

Sistem ekonomi linear yang selama ini diterapkan, menjadi salah satu faktor yang memperparah ekosistem lingkungan. Jika pelaku bisnis tidak mengambil langkah tepat saat ini, di masa depan, manusia akan kekurangan sumber daya untuk bertahan hidup.

“Kita berpikir bahwa pekerjaan kita adalah untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi. Namun, yang menjadi pertanyaan mengenai pertumbuhan ekonomi adalah apakah kita memiliki sumber daya yang cukup bagi setiap manusia yang terus bertambah di dunia,” ujar Kotler yang baru saja merayakan ulang tahun ke-89 tersebut.

Permasalahan utama dunia, kata Kotler, adalah kita berdiri pada dua asumsi. Pertama, keinginan manusia tidak terbatas, dan kedua adalah kapasitas pemasar untuk melayani keinginan manusia tersebut dengan daya yang terbatas.

Ia menyarankan, daripada berpikir mengenai pertumbuhan ekonomi, pemasar perlu memikirkan soal ekonomi sirkular. Dengan ekonomi sirkular, segalal sesuatu yang telah diciptakan akan bertahan lama.

“Barang yang telah kita produksi akan kita gunakan kembali, menyebarkannya, dan dapat memberikan manfaat pada orang lain. Sehingga kita tidak menyia-nyiakan apa yang telah kita hasilkan hanya untuk mendapatkan lebih banyak pertumbuhan,” ucap Kotler.

Sirkular ekonomi juga harus didukung oleh konsumen yang lebih pintar dan bertanggung jawab. Ekonomi ini diterapkan untuk mengatasi permasalahan limbah dan kelangkaan sumber daya atau bahan baku.

Jika konsumen dapat lebih bertanggung jawab soal apa yang dikonsumsi, ekonomi sirkular akan berjalan lancar. “Ekonomi sirkular adalah sesuatu yang harus kita pikirkan segera. Jika COVID-19 berakhir dan kita telah menang, kita harus menyelamatkan planet ini dari polusi dan pemanasan global. Mengharuskan kita memikirkan ulang tentang pertumbuhan ekonomi,” tutup Kotler.

Ekonomi Sirkular


Untuk diketahui, ekonomi sirkular adalah sebuah alternatif untuk ekonomi linier tradisional (buat, gunakan, buang) untuk menjaga sumber daya yang dapat dipakai selama mungkin dengan menggali nilai maksimum dari penggunaan, kemudian memulihkan dan meregenerasi produk dan bahan pada setiap akhir umur layanan.

Konsep yang mengusung prinsip use, return, and make ini berbeda dengan linear economy yang memiliki prinsip beli, gunakan dan buang.

Ekonomi sirkular bertujuan untuk mendefinisikan kembali pertumbuhan, dengan fokus pada manfaat positif masyarakat luas. Hal ini memerlukan secara bertahap memisahkan kegiatan ekonomi dari konsumsi sumber daya yang terbatas, dan merancang limbah dari sistem. Didukung oleh transisi ke sumber energi terbarukan, model sirkular membangun modal ekonomi, alam, dan sosial. 

Selain itu, ekonomi sirkular didasarkan pada tiga prinsip yaitu perancangan limbah dan polusi, menyimpan produk dan bahan yang digunakan dan meregenerasi sistem alami.

Strategi ekonomi sirkular telah berhasil dilakukan oleh beberapa negara, salah satunya adalah Denmark.

Dalam ekonomi sirkular, kegiatan ekonomi membangun dan membangun kembali kesehatan sistem secara keseluruhan. Konsep ini mengakui pentingnya ekonomi yang perlu bekerja secara efektif di semua skala baik bisnis besar dan kecil, untuk organisasi dan individu, secara global dan lokal.