Baru Terbit

Kembalinya Salman Subakat dan Tentang Sejarah Wardah

02 March 2019
Tentang Sejarah Wardah
Salman Subakat (foto: swa.co.id)


"Saya sadar betapa saya bisa kuliah dengan tenang berkat kerja keras seluruh karyawan perusahaan. Saya merasa terpanggil untuk pay back," ujar Salman Subakat, Chief Marketing Officer PT Paragon Technology and Innovation, saat berbicara soal keputusannya kembali ke Wardah.

Perusahaan PT Paragon Technology and Innovation itu dibangun ibunya, Nurhayati. Jika kalian tahu kosmetik Wardah, itulah produk mereka.

Awalnya, tepatnya pada tahun 2002, Salman tidak ingin memimpin perusahaan tersebut. Padahal saat itu, ayahnya, Subakat Hadi, dan ibunya Nurhayati, memintanya secara langsung. Alasan ia menolak saat itu ialah ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang Master.

Namun, suatu saat Salman merasa ada yang salah. Ia merasa berutang budi pada para pegawai di perusahaan ibunya tersebut.

Baca Juga: Cara Cantik ala Perempuan 90-an

Ia tak bisa menolak fakta bahwa biaya hidup sampai sekolahnya sebagian besar datang dari perusahaan tersebut. Akhirnya, Salman pun memutuskan kembali dan memimpin perusahaan yang identik dengan kosmetik Islami dan halal itu.

Direktur pemasaran adalah posisi awal saat Salman pertama kali bergabung dengan perusahaan keluarganya tersebut pada 2004. Langkahnya itu diikuti juga oleh dua saudara kandungnya, Harman Subakat dan Sari Chairunnisa.

Cerita Salman Tentang Sejarah Wardah


Salman melanjutkan perjuangan ibunya yang sudah mulai membuat produk kosmetik pada 1985 dengan merk Putri. Saat itu, kata Salman, skala industrinya masih home industry. Meski begitu, produk yang dijual berkualitas dan harganya bersaing.

Salman, bersama keluarganya, menjual Putri ke salon-salon di pinggiran Tangerang. Dengan menggunakan mobil hasil kerja keras ibunya selama menjadi apoteker Rumah Sakit Umum Padang dan staf quality control di Wella Cosmetic selama 1979-1985, mereka berkeliling menitipkan dagangan.

Wardah Lahir dari Saran


Tentang Sejarah Wardah
Salman sedang menjelaskan produk beda Wardah (foto: Tribun)

Pada 1995, seorang kolega menyarankan produk yang tidak pernah ada di Indonesia, yaitu kosmetik yang lebih Islami dan natural. Saran itu diterima dan dipikirkan, lalu lahirlah merek Wardah.

Nama wardah sendiri, menurut Salman, berarti bunga mawar.

Produk Wadah pun mulai dipasarkan pertama kali pada tahun 2002. Saat itu, Wardah merupakan pelopor produk kosmetik Islami di Indonesia.

Oleh karena itu, menurut Salman, mereka harus lebih kuat karena tak punya pesaing dan tak punya panutan yang bisa dijadikan contoh. Mereka harus lebih kreatif dan memiliki tim yang solid untuk mempertahankan produknya.

Karena Wardah lahir dari saran, maka Salman dan keluarganya sangat percaya bahwa masukan dan saran adalah salah satu kunci penting bagi Wardah. Oleh sebab itu, Wardah pun mempekerjakan lebih dari 4.000 beauty advisors.

Baca Juga: Tarif Pajak Kosmetik Impor Naik, Yuk Pakai ‘Gincu’ Dalam Negeri!

"Mereka bukan outsource, kami merasa mereka juga adalah bagian dari kita. Mereka bisa meningkatkan skill nya untuk make up dan membantu masyarakat untuk lebih cantik," kata Salman, ketika diwawancarai oleh Majalah Swa pada 2015 lalu.

Kepercayaan yang jadi strategi itu pun kini ditiru perusahaan-perusahaan lain. Wardah, sudah menjelma menjadi perusahaan kosmetik raksasa yang awalnya hanya dijual menggunakan metode door to door.

Kini, wardah sudah memiliki 7.500 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Kapasitas produk sudah mencapai 95 juta untuk personal care dan makeup. Sementara, kini mereka sudah memiliki pabrik dengan luas 15 hektare dan baru bertambah lagi empat buah di area Jatake, Tangerang.

Tentang Kunci Kesuksesan Wardah


Tentang Sejarah Wardah


"Kata kuncinya selalu optimistis. Wardah adalah bukti bahwa kesempatan itu luas. Percaya terhadap hati nurani dan common sense kita," kata Salman.

Selain itu, Salman yakin keteladanan dan customer focus merupakan jawabannya. "Kita harus mempertahankan apa yang sudah kita kuat dan memperbaiki apa yang perlu ditingkatkan lagi," kata Salman.

Tidak hanya itu, sang ibu juga terus memelihara budaya ketuhanan, keteladanan, kekeluargaan, tanggung jawab, dan inovasi. Budaya itu terus dipertahankan sampai ke generasi Salman.

Ibunya, Nurhayati, juga punya rumus 5P, yaitu product, pricing, positioning, promotion dan pertolongan (dari Tuhan). Menurut Nurhayati, tanpa pertolongan Tuhan, momentum berharga di tahun 2009 tidak akan terjadi.

Ada apa tahun 2009? Saat itu Wardah melakukan re-branding besar-besaran. Ternyata pada waktu yang sama, penggunaan hijab tengah trend. Seolah sudah otomatis, para hijabers di Indonesia pun menggunakan kosmetik Wardah.

Wardah Tidak Hanya Mencari Profit


Jika bicara tentang wardah dan sejarahnya, sejak awal perusahaan Wardah tidak hanya mencari profit. Bagi mereka, memperkuat kaum perempuan juga patut diperhatikan. Gagasan pemberian beasiswa bagi kaum-kaum hawa pun direalisasikan.

Baca Juga: Cara Menghilangkan Jerawat Dengan Membersihkan Wajah Dengan Benar

"Kita tahu perempuan kadang-kadang dinomorduakan dalam pendidikan. Kita juga harus peduli ke perempuan-perempuan lain yang dalam kondisi tidak sehat, entah karena menderita kanker atau lupus," tutur Salman.

Ia memiliki harapan Wardah bisa menjadi perusahaan yang menjadi role model bagi perusahaan lain. Selain itu, bisa mempercantik perempuan-perempuan di Indonesia.

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!