Baru Terbit

Pendiri Roti BreadTalk, Raja Foodcourt yang Latar Hidupnya Sederhana

12 March 2019
Pendiri dan pengusaha roti BreadTalk, George Quek, fakta berasal dari keluarga sederhana


BreadTalk menjamur di berbagai mall, disukai karena rasanya yang nikmat, namun harganya juga bersahabat. Seakan sejalan dengan pemiliknya, sukses, tapi punya latar hidup yang sederhana.

Dijuluki Raja Foodcourt, ialah George Quek, pemilik roti BreadTalk yang punya ambisi membangun 2000 gerai pada tahun 2020 mendatang ternyata lahir dari keluarga petani sederhana.

Tuminesia berhasil merangkum sejumlah fakta dari Singapore Infopedia mengenai pemilik roti BreadTalk ini. Apa saja fakta-faktanya? Berikut kisah lengkapnya:

1. Anak Petani yang Jadi Nelayan


Pendiri Roti BreadTalk, George Peak, Raja Foodcourt yang Latar Hidupnya Sederhana
Pendiri dan pengusaha roti BreadTalk, George Quek. (xinminsec.moe.edu.sg)


George lahir saat ayahnya masih berprofesi sebagai petani sayur mayur. Namun, karena kondisi keuangan yang kurang menjanjikan, ayahnya beralih profesi menjadi nelayan.

Sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Saat kecil, George dikenal sebagai orang yang pemalu tapi tidak suka sistem yang terlalu kaku.

Ia memiliki jiwa seni yang tinggi, sehingga waktunya cenderung habis untuk menggambar. Alhasil, bukan juara kelas yang ia raih melainkan juara di berbagai kompetisi gambar setempat.

2. Berpindah-Pindah Profesi


Pendiri Roti BreadTalk, George Peak, Raja Foodcourt yang Latar Hidupnya Sederhana
Pendiri dan pengusaha roti BreadTalk, George Quek. (breadtalk.listedcompany.com)


Setelah lulus dari Sekolah Xinmin, George Quek melanjutkan studinya di bidang seni. Namun, ia tak memiliki biaya yang cukup saat itu sehingga mengambil kerja sampingan sebagai teknisi listrik.

Saat usianya 20 tahun, George beralih profesi dan bergabung ke dinas militer Singapura. Selama lima tahun, pangkatnya naik jadi sersan mayor.

Tak betah, ia lari ke Hong Kong dan bekerja di Parklane Shopping Mall. Saat itu, ia menjual jajanan manis yang sedang hits saat itu, yakni kumis naga.

Selama berdagang di Hong Kong, ia bertemu seorang perempuan yang akhirnya menjadi istirnya, yaitu Katherine Lee Lih Leng.

Baca Juga: Kembalinya Salman Subakat dan Tentang Sejarah Wardah

Meski sudah menikah, ia tetap tidak betah berada di satu tempat. Lantas, George pun bertekad pergi ke Taiwan untuk melanjutkan studi.

Namun, ia memikirkan kembali keputusannya. Dilema, antara bisnis kumis naga atau melanjutkan studi. Pasalnya, saat itu usaha kumis naga sedang berkembang pesat.

Akhirnya, ia memutuskan bertahan dan meminjam uang dari ayahnya untuk membuka kios khusus berjualan kumis naga.

3. Bisnisnya Berkembang


Setelah membuka kios, prediksi dan rencananya berjalan cukup baik dan bisnisnya otomatis berkembang pesat. Dalam sebulan, ia berhasil meraup untung hingga ratusan juta rupiah.

Karena uang sudah cukup banyak, ia kepikiran untuk membuka restoran Bak Chor Mee (Mie dengan potongan daging babi ala Singapura). Mi tersebut cukup terkenal di Taiwan. Ia pun terbang ke Taiwan untuk mempelajari resep Bak Chor Mee.

4. Jatuh Bangun Jual Mie


Sekembalinya ke Taipei, ia membangun sebuah gerai makanan bernama Singa. George memulainya dengan modal US$ 100 ribu, dengan menu utamanya Bak Chor Mee dan bakmie ikan.

Namun, prediksinya salah kali ini. Bisninnya gagal dan terpaksa tutup setelah tiga bulan berjalan.

Uang tabungannya ludes saat itu. Ia kecewa tapi tidak berhenti berusaha.

Baca Juga: Kisah Wozniak yang 'Ditenggelamkan' Steve Jobs

George menata kembali mimpinya. Mengatur semuanya agar jangan sampai salah lagi.

Hingga rencananya siap, ia pun membuka gerai makan setelah merekrut chef yang lebih handal. Menunya saat itu sate, nasi ayam Hainan, dan mie udang.

Singa, yang dulu sempat tutup, kini bangkit dan jadi sukses. Hingga tepat pada 1992, George Quek meninggalkan Taiwan dan menjual Singa yang sudah memiliki 21 cabang.

5. Pulang Kampung dan Jadi Raja Foodcourt


Pendiri Roti BreadTalk, George Quek, Raja Foodcourt yang Latar Hidupnya Sederhana
Food Junction, waralaba yang didirikan George Quek sebelum roti BreadTalk. (Shutterstock)


Setelah 11 tahun bertarung di Taiwan, ia pun mencoba peruntungan yang lebih lagi di Shanghai. Saat itu, ia membuka gerai es krim yang berkembang sesuai prediksinya.

Namun, setelah 9 bulan, ia rindu tempat kelahirannya, Singapura. George pun pulang kampung dan membuka Food Junction, sebuah waralaba food court yang ada di pusat-pusat perbelanjaan.

Dalam waktu delapan tahun, Food Junction berkembang pesat dan memiliki 14 gerai di Singapura. Mereka juga sukses membuka cabang di Johor Baru, Malaysia.

George pun makin kaya dan menjadi pemegang saham mayoritas di Megabites Foodcourt Beijing dan Shanghai. Saat itulah ia mendapat julukan Raja Foodcourt.

6. Mendirikan BreadTalk


Setelah sukses dengan berbagai waralabanya, George mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Managing Director Food Junction. Ia pun terbebas dari ikatan ini itu dan membuka brand baru dengan nama BreadTalk pada Juli 2000.

Ia begitu ingin mendirikan BreadTalk setelah terinspirasi dari toko-toko roti di Jepang dan Taiwan.

BreadTalk berkembang laris manis di pasaran dan dalam kurun waktu singkat, yaitu tahun 2003, ia berhasil membawa brand barunya itu masuk ke bursa saham Singapura.

Pendiri Roti BreadTalk, George Quek, Raja Foodcourt yang Latar Hidupnya Sederhana
Gerai roti BreadTalk di Singapura. (Shutterstock)

BreadTalk Group pun berhasil melahirkan beberapa anak perusahaan lainnya seperti Toast Box, Bread Society, The Icing Room, Din Tai Fung, serta Food Republic.

Sang Raja Foodcourt pun kini sudah bisa dijuluki Crazy Rich Asian. Roti BreadTalk meraih sejumlah penghargaan seperti Singapore Promising Brand Award, Most Popular Brand 2002, Singapore Promising Brand Award, dan Most Distinctive Brand 2003-2004 versi Association of Small and Medium Enterprise (ASME).

Baca Juga: Debut Steve Jobs Bersama iPhone

Saat ini, BreadTalk sudah memiliki 1000 gerai di berbagai negara termasuk Indonesia. Roti ini begitu disukai di Indonesia hingga pada tahun 2004, BreadTalk (Indonesia) berhasil meraih Best Seller Product versi majalah Marketing untuk productnya yaitu C’s Flosss dan Fire Flosss yang per harinya terjual sekitar 20.000 buah.

Rencananya, George bersama BreadTalk-nya akan membuka 2 ribu gerai baru pada 2020. Keinginannya mencoba hal-hal baru adalah kunci kesuksesan yang ia tunjukan sejak dulu.

Latar belakang hidup yang sederhana bukan alasan baginya untuk mengeluh dan bertahan di satu tempat. Jiwa pengusaha George Quek, berhasil membawanya merajai bisnis kuliner dan meraih berbagai penghargaan.

Jadi, jangan pasrah akan keadaan, tapi berjuanglah dulu. Hidup cuma sekali, babat aja!

Sumber gambar utama: sgsme.sg

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!