Baru Terbit

Alasan Mengapa Milenial Harus Nabung Saham

05 March 2019


Dulu di sekolah dasar, ada seorang filsuf yang tidak henti-hentinya mengingatkan bahwa kunci kekayaan adalah dari besar kemampuan seseorang dalam menahan godaan melakukan pengeluaran. Hemat pangkal kaya, pokoknya. Daripada jajan susu ber-uang, lebih baik jajan susu murni yang rajin lewat pakai sepeda di pinggir jalan.

Namun, benarkah demikian? Apakah memangkas kebutuhan milenial yang selalu butuh afirmasi publik dapat menjadikan hidupnya terjamin sepuluh tahun mendatang?

Katakanlah seorang milenial yang biasa mampir ke asbucks telah bertaubat dan memilih hidup ke-indie-an di kedai kopi lokal demi menghemat pengeluaran. Dengan begitu, mereka memiliki sisa uang lebih banyak di bank. “Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit,” kata filsuf itu lagi.

Memang benar, sih, konsisten menahan diri dari godaan hidup fancy dapat membuat saldo di dalam tabungan meningkat secara pasti. Tetapi, apakah uang yang disimpan sejak dini masih memiliki nilai yang sama sepuluh tahun lagi?

Baca Juga: Mana Untung Investasi Saham, Obligasi, atau Reksadana?

Secara jumlah, uang tersebut memang bertambah. Tetapi inflasi membuat nilainya tidak sama lagi. Jadi, jika hari ini milenial membutuhkan anggaran sebesar Rp2 juta untuk makan sebulan, sepuluh tahun lagi, mereka membutuhkan dua kali lipat (atau lebih) dari anggaran sebelumnya untuk memperoleh jenis makanan serupa.

Dari ilustrasi tersebut, dapat kita simpulkan bahwa berhemat belum tentu menjadikan kita kaya. Melakukan konsumsi tidak melebihi kemampuan finansial memang menjadi cara agar seseorang bisa tetap menabung. Tetapi, jenis tabungan itulah yang menjadi penentu peluang seseorang untuk memperoleh keuntungan lebih besar di masa yang akan datang. Apakah menabung di celengan dan bank dapat membuat uang berkembang sejalan dengan inflasi? Tentu tidak.

“Investasi adalah koentji.” Filsuf, 2019.


Nabung Saham


Ilustrasi (foto by rawpixel.com)


Sama seperti menabung, investasi pada dasarnya menunda seseorang untuk melakukan konsumsi hari ini untuk digunakan di masa depan. Bedanya, kesempatan yang diberikan investasi jauh lebih besar. Seperti gudeg yang membutuhkan proses lama untuk bisa menghasilkan aroma nikmat di meja makan, hasil terbaik investasi dapat dinikmati dalam jangka panjang.

Dengan menyisihkan Rp100 ribu dari anggaran taubat kopi per minggu, kita sudah bisa membeli beberapa slot saham. Tidak hanya itu, instrumen saham juga sangat bersahabat bagi khalayak cashless yang enggan beranjak dari rumah hanya demi memenuhi kebutuhan belanja sehari-hari, di mana kita hanya perlu menghubungi perantara untuk melakukan proses jual-beli saham.

Baca Juga: Bitcoin Masih Luar Biasa, Mau Main?

Saham juga merupakan instrumen yang sangat terbuka untuk dianalisis, serta mudah dicairkan dan dijual. Sifatnya yang fleksibel membuat menabung saham menjadi pilihan menyenangkan. Tidak ada batas berinvestasi dan dapat dilakukan sambil ngopi, semua bisa disesuaikan dengan kemampuan pribadi.

Jadi, bagaimana? Masih ingin menggantungkan hidup pada tabungan konvensional?

Di zaman yang serba canggih, terbuka dengan peluang baru merupakan pilihan terbaik yang dapat diambil. Pelajari dengan baik perusahaan yang sahamnya akan kita beli. Dengan begitu, kita yang saat ini masih taubat kopi demi bisa naik haji, sangat mungkin mendapat lebih banyak dari satu keinginan sepuluh tahun lagi.

=============
Penulis: Elva Mustika Rini | Follow Instagramnya di: @elvocado
=============
Sumber foto utama: lifeofpix.com

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!