Tugas Berat Pasca Akuisisi Freeport, Bisnis juga Stigma - Tuminesia - Baru Juga Cerdas

Panas

Post Top Ad

18 September 2018

Tugas Berat Pasca Akuisisi Freeport, Bisnis juga Stigma

Indonesia telah mengakuisisi saham PT Freeport Indonesia (PTFI) sampai 51 persen. Proses penyelesaian pembayaran divestasi 51 persen saham PTFI pun ditargetkan selesai bulan ini.

Lalu apa yang akan harus dilakukan selanjutnya?

Karyawan PT Freeport Indonesia (foto: siagaindonesia)

Pemerintah telah menetapkan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) sebagai pemegang saham mayoritas. Otomatis, Inalum dipercaya untuk memanajemen bahkan mempersiapkan proses pengelolaan tambang bawah tanah.

Berbagai target telah disiapkan, harapan-harapan untuk kemajuan Indonesia pun mulai dicanangkan. Tentunya, untuk mewujudkan harapan besar tersebut, perlu dukungan banyak pihak, termasuk bekas Freeport McMoRan.

Sebagian pekerja Freeport McMoran tetap dipercaya menggarap lahan pertambangan yang berlokasi di dataran tinggi Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua tersebut. Pengalaman 51 tahun mereka sangat dibutuhkan pemerintah untuk bersinergi menghasilkan keuntungan.

Apakah hanya itu? Tentu saja tidak. Ada banyak target yang harus dicapai, tugas berat menanti jajaran pemerintah Indonesia, PT Freeport Indonesia, dan tentunya Inalum sendiri.

Tugas Berat Pasca Akuisisi Freeport


Bisnis Indonesia menggelar diskusi terbatas dengan tema Skenario Bisnis pasca Akuisisi Freeport, pada Senin (17/9/2018) kemarin. Tuminesia.com berkesempatan meliput diskusi terbatas ini.

Tiga pembicara dipanggil untuk menjelaskan target rumit yang menanti Indonesia. Mereka bertiga ialah Ketua Indonesia Mining Institute  Irwandy Arif, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sukamdaru Prihatmoko, dan Milawarma, seorang profesional pertambangan.

Tidak hanya mereka bertiga, juga hadir Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Bambang Susigit, sebagai penegas informasi yang ada.

Bambang mengatakan, pasca Kontrak Karya PTFI habis, fokus PTFI bersama Inalum adalah tambang bawah tanah. Sebab, cadangan tambang terbuka (open pit) di Grasberg sudah akan habis.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Bambang Susigit
Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Bambang Susigit (dok: spesial)

Saat ini, terdapat 5 tambang bawah tanah yang saat ini digarap PTFI. Nantinya, tepatnya pada 2019, PTFI akan memaksimalkan tambang bawah tanah tersebut, setelah sebelumnya fokus di tambang terbuka.

Manajemen terbaik diperlukan kata Bambang. Pemerintah jangan main-main untuk mengelola masalah ini, mengingat kondisi geografis di Papua sangat rumit.

"Strategy plan harus benar-benar dilakukan agar transparan,” kata dia dalam diskusi terbatas itu di Grand Hyatt, Jakarta.

Selain itu, manajemen selanjutnya juga harus memikirkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan. Adapun unsur-unsur yang dibutuhkan demi mewujudkan target tersebut ialah penelitian soal wilayah operasi yang terpencil, teknologi tinggi untuk penelitian dan eksekusi, investasi besar, tenaga kerja mumpuni, dan industri-industri pendukung.

Untuk investasi, pada 2014-2021, biaya investasi tambang bawah tanah mencapai 7 miliar dolar AS. Namun setelah 2021, Bambang mengatakan, butuh lebih dari 10 miliar dolar AS.

Menurut data Kementerian ESDM, produksi tahun ini telah mencapai 240 ribu ton per hari. Rinciannya, 160 ribu ton tambang terbuka, 70 ribu ton dari tambang bawah tanah.

Sumber daya dan cadangan bijih Freeport Indonesia


“Artinya ke depan 160 ribu ton tambang terbuka akan masuk ke tambang dalam dengan potensi cadangan besar. Kalau produksi tidak ubah 300 ribu ton, sampai 2041 cadangan bijih itu masih ada 2 miliar ton,” ucap Bambang.

Targetnya, menurut Bambang, era tambang dalam yang masih 10 persen tahun ini, bisa mencapai 100 persen setelah 2021. Untuk itu, perlu kerja sama dari berbagai pihak dan peningkatan dari berbagai faktor, termasuk budaya.

Memperbaiki Kesan Negatif PT Freeport Indonesia


Bambang mengatakan, selama ini kesan masyarakat cenderung negatif terhadap PT Freeport Indonesia. Banyak yang salah mengartikan maksud dari kebijakan yang ada, bahkan sejumlah media pun salah menyampaikannya.

Hal itu cukup disesalkan para narasumber dalam diskusi ini. Mereka menyesali penyampaian informasi yang terlalu praktis, bahkan asal bunyi.

Maka, Bambang berharap pihak PT Freeport Indonesia maupun Inalum, dapat mempelajari komunikasi yang baik di depan media. Budaya, tutur kata, dan sinkronisasi dengan pemerintah daerah, harus berjalan dengan baik.

Di sisi lain, pemerintah juga berencana memanfaatkan Sumber Daya Manusia di Indonesia. Diharapkan, pembangunan laboratorium yang meneliti pertambangan dapat dibangun di berbagai perguruan tinggi.


Tantangan Pasca Akuisisi Freeport, Bisnis juga Stigma Negatif


Menurut Milawarma, seorang profesional pertambangan, kondisi pendidikan Indonesia cukup miris dalam hal pertambangan. Hal ini membuat Indonesia masih butuh tenaga asing untuk beberapa posisi penting, karena belum ada yang mampu mengatasinya.

Untuk diketahui, beberapa target tambang yang akan digarap pasca akuisisi Freeport adalah ertzberg, lalu kucing liar. Saat ini, Freeport masih berfokus menghabiskan sumber mineral grasberg.

Adapun prospek emas juga sedang dalam kondisi terbaik. Bahkan menurut data McKinsey 2015, kondisi ini akan lebih meningkat 5 tahun lagi.

Melihat prospek ini, Inalum berharap dapat menyamai jejak pertambangan kelas wahid seperti Vale dan Codelco. Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Sukmandaru Prihatmoko, mengatakan bahwa Vale awalnya perusahaan BUMN yang melepas diri menjadi swasta dan berkembang pesat hingga menguasai sejumlah negara di dunia.

"Semoga, dengan akuisisi 51 persen ini, Inalum sebesar Vale," kata Prihatmoko.

Terpenting di balik semua target itu, pertambangan jangan hanya pertambangan. Sedot hasil alam, lalu habis ditinggalkan.

Jangan sampai, hasil tambang ini menjadi sia-sia dan malah merusak alam. Indonesia harus meniru Malaysia yang berhasil mengubah kawasan bekas tambang timah menjadi pemukiman elite di masa depan.

"Tuhan bisa memaafkan, manusia bisa memaafkan, tapi alam tidak bisa memaafkan," ujar Irwandy Arif, Ketua Indonesia Mining Institute.


=====================
Reporter: Hotlas Mora Sinaga

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!