Bagaimana Media Seharusnya Bersikap saat Meliput Bencana - Tuminesia - Baru Juga Cerdas

Panas

Post Top Ad

12 August 2018

Bagaimana Media Seharusnya Bersikap saat Meliput Bencana

Bingkai media bisa jadi satu penentu bagaimana masyarakat melihat bencana. Media harusnya lebih menghargai budaya sadar bencana, sehingga berhati-hati saat meliput peristiwa.




Seperti kita ketahui, media selalu menyajikan informasi setiap jam bahkan setiap menit. Informasi-informasi tersebut memiliki nilai tersendiri, entah itu penting sekali atau bahkan tidak perlu diberitakan.

Media pun telah menjelma sebagai salah satu sumber informasi yang dipercaya masyarakat pada saat ini. Mereka hadir di tengah keluarga, dengan iming-iming sajian fakta cepat, lugas, logis, tepat, sesuai etika jurnalistik, penting, dan sebagainya.

Tapi pada nyatanya, tidak semua pers dapat mewujudkan hal-hal itu saat melaporkan fakta. Salah satunya, saat meliput bencana.

Saya sering menyaksikan para wartawan menyemplung ke wilayah banjir sambil melaporkan fakta kepada khalayak.

Apakah hal seperti itu penting, tepat dan logis?


Seorang reporter tak mesti terjun untuk merasakan bencana. Sungguh miris jika reporter itu sendiri yang hanyut diterjang banjir karena sibuk menghadap kamera.

Bukannya lucu, jika tugas wartawan untuk meliput, malah berakhir diliput?

Sikap Media saat Liputan Bencana
Hasil screenshot dari pencarian di Google dengan keyword "Media liput banjir"

Selain itu juga saat media membingkai suatu peristiwa bencana. 


Sebaik-baiknya, media tidak membuat suasana semakin buruk dengan mengekspos kesedihan para korban bencana.

Para wartawan sebaiknya lebih memahami kondisi para korban, bukan membuat mereka merasa tidak berguna. Apalagi jika korban malah ditanyai "Apakah bapak/ibu sudah menerima bantuan?"

Hei!

Mereka bukan pengemis. Mereka hanya sedang terkena bencana yang tidak bisa terelakkan.

Ahmad Arif, Penulis buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme (2010), pernah membahas hal ini dalam bukunya. Ia memberikan ilustrasi, bahwa mereka yang jadi korban bencana atau mereka yang menjadi pengungsi pun merasa gerah dengan banyak pihak yang datang untuk bertanya, padahal hidup mereka yang tinggal di tenda pengungsian tak kunjung berubah.

Maka ada baiknya para wartawan mengubah pertanyaan tersebut menjadi lebih luas. Seperti, "bagaimana cara bapak/ibu mendapatkan makanan dan minuman setiap harinya?".

Dengan begitu, wartawan bersikap lebih menghargai korban, yang masih punya pikiran dan mental untuk bertahan hidup. 

Selain menghargai para korban, media sebaiknya menyajikan sisi lain dari setiap bencana. Bukan malah menakut-nakuti pemirsa dengan angka kematian, menyoroti mayat bergelimpangan, atau air mata kesedihan.

Melainkan media harus memberikan efek tegar, menerima kenyataan, dan tetap semangat menghadapi persoalan dengan berita-berita positif. Contohnya, penyajian data fakta bahwa bencana ini tak separah sebelumnya, atau bagaimana sikap para korban yang bisa menginspirasi, dan banyak lagi hal positif yang bisa disorot. Bukan malah sebaliknya, mengubah bencana menjadi drama.

Para wartawan media sebaiknya memahami jurnalisme empati, seperti digambarkan oleh Ashadi Siregar. Ia menjelaskan bahwa jurnalisme empati adalah sikap seorang jurnalis yang berusaha memasuki kehidupan subjek, dengan etis agar tidak melakukan penetrasi yang sampai mengganggu kehidupan subjek.

Apakah ada media yang bersikap seperti hal-hal tersebut saat meliput bencana? Ada!


NHK, salah satu media Jepang, contohnya. Saat mereka meliput peristiwa gempa tsunami di Jepang pada 2011 lalu, mereka tidak bermain drama. Kalian bisa menonton salah dua video liputannya di bawah ini:



Bisa kalian lihat bagaimana mereka tidak mem-framing bencana agar terlihat dramatis. Tidak ada fokus tangis, lagu sedih, atau sorotan kematian.

Cara pengambilan gambar mereka pun lebih sering menggunakan teknik long shot bukan close up. Sehingga terkesan tak mengeksploitasi kesedihan para korban yang memang jelas pasti bersedih.

Mereka sadar dengan posisinya sebagai lembaga publik dan memilih tidak bermain drama. 

Kembali lagi ke masalah bagaimana seharusnya media bersikap saat meliput bencana. Sesungguhnya, ada hal mudah tapi bermakna penting yang bisa mereka lakukan yaitu, menyoroti kinerja pemerintah dalam menanggulangi bencana.

Salah satunya, kinerja Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang tampak selalu hadir, tanggap meminimalisir akibat bencana. Sorotan itu akan sangat penting, karena selain masyarakat melihat kinerja pemerintah, rasa sedikit lebih tenang pun ada karena ahlinya sudah turun ke lokasi bencana.

Para petugas BNPB sedang menggali puing-puing, mencoba mengevakuasi korban gempa Lombok, 10 Agustus 2018 (foto: Twitter Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, @Sutopo_PN)

Jika semua hal di atas terpenuhi, media akan lebih bermutu saat menyikapi suatu bencana dan publik pun akan menerima manfaat lebih baik. So, itu dia bagaimana media seharusnya bersikap saat meliput bencana menurut saya.

Terpenting untuk diketahui dalam meminimalisir dampak bencana adalah "Kenali Bahayanya Kurangi Risikonya". Siapapun kita, jangan apatis dengan cara-cara penanggulangan bencana. Karena kita tak pernah tahu, kapan hal buruk itu datang.

Selain kritik media, artikel ini juga saya persembahkan untuk BNPB yang terus berperan aktif dalam proses penanggulangan bencana. Kinerja mereka layak diacungi jempol dan telah terbukti kecepatan dan ketepatannya.

Like akun Facebook BNPB di https://www.facebook.com/HumasBNPB, follow Twitter BNPB di https://twitter.com/bnpb_indonesia, dan follow Instagram BNPB di https://www.instagram.com/bnpb_indonesia untuk mendapatkan informasi terbaru soal penanggulana bencana. Kamu akan melihat kinerja BNPB yang selalu berusaha membuat kita Siap untuk Selamat!

16 comments:

  1. Luar biasa bosque tulisannya. Cocoque nih dikirim ke geotimes atau tirto :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti cocok dibaca banyak orang ya bang? Hahaha.. bisa aja..

      Delete
  2. Bener dan bagus laass ������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Maha :) Share donk! biar bisa bermanfaat buat orang banyak juga hahaha

      Delete
  3. Bagus tulisannya dan sesuai dengan kondisi terkini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar banyak media atau wartawan yang mengoreksi diri juga kak.. mana tau mereka baca :v

      Delete
  4. Analisanya menarik. Mudah dimengerti.

    ReplyDelete
  5. Berat nih tulisannya, tapi keren pemikirannya. Toplah panutan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayanlah buat jurnalis muda :v wkwkw.. Thankyou Windi :D

      Delete
  6. Media menjadi penyampai berita baik harusnya ketika bencana jangan melulu mengekspos kesedihan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul banget bang.. semoga media Indonesia dapat berkembang ke arah lebih baik yah :D

      Delete
  7. "Para wartawan sebaiknya lebih memahami kondisi para korban, bukan membuat mereka merasa tidak berguna" benerbanget!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya tuh kak.. tapi paling penting, kondisi mereka bisa lebih baik. Media sebaiknya juga mengajak pemirsa turut membantu, tidak hanya uang, tapi juga tenaga.. intinya gotong royong buat merasakan bersama sakitnya terkena bencana, tapi tak perlu menekankan tangisannya..

      Delete

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!