Mencegah Terorisme Keluarga dengan Perda - Tuminesia - Baru Juga Cerdas

Panas

Post Top Ad

18 May 2018

Mencegah Terorisme Keluarga dengan Perda

Aksi terorisme di Kompleks Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, telah membuat banyak kerepotan. Ditambah lagi peristiwa di Surabaya dan Riau, saat polisi diserang oleh bom, gunting, hingga samurai.

Aksi di Surabaya dilakukan oleh satu keluarga. Ayah, ibu, anak-anak melakukan aksi pengeboman di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan kantor polisi setempat.

Foto keluarga pelaku serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya (foto: Tribunnews)

Melihat peristiwa mengkhawatirkan itu, Kantor Wilayah Kementerian Agama di Daerah Istimewa Yogyakarta, mendorong Rancangan Peraturan Daerah tentang Ketahanan Keluarga. Hal ini dilakukan demi mencegah aksi teroris sekeluarga seperti di Surabaya.

Kemenag berharap, aturan ini segera disahkan untuk mencegah penanaman radikalisme di lingkungan keluarga.

"Kami bersyukur dalam waktu dekat ada Perda Ketahanan Keluarga. Mudah-mudahan segera disahkan," kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Lutfi Hamid, di Yogyakarta, Jumat (18/5/2018).


Raperda Paling Komperhensif


Raperda tersebut, kini masih dalam proses konsultasi di Jakarta. Menurut Lutfi, raperda ini adalah satu-satunya peraturan yang berkomponen ketahanan keluarga paling komprehensif.

"Sepemahaman kami, komponennya paling lengkap," kata dia.

Di dalam Perda Ketahanan Keluarga ini, terdapat landasan kursus calon pengantin. Dalam kursus calon pengantin ini, kedua calon mempelai akan mendapat pengarahan mengenai fungsi reproduksi, kesadaran sosial, hingga pemahaman Islam Rahmatan Lil Alamin.

"Kami juga selalu meminta Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DIY dilibatkan dalam peran menumbuhkan ketahanan keluarga karena memang saat ini kesadaran sebagai warga bangsa, serta kesadaran menjadikan UUD 1945 dan Pancasila sebagai landasan negara sudah mengering," kata dia.

Aksi teror bom yang dilakukan satu keluarga seperti yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur merupakan salah satu dampak lemahnya penanamam nilai kewarganegaraan, selain pemahaman agama yang keliru.

Selain melalui Perda Ketahanan Keluarga, menurut Lutfi, di DIY seluruh kurikulum di madrasah telah dirancang untuk menangkal paham radikal. Selain itu juga ditanamkan pemahaman Islam yang moderat.

"Ini adalah langkah kami untuk melakukan pendampingan, antisipasi infiltrasi paham terorisme di lingkungan keluarga," kata dia.



Sumber : Antara

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!