Cegah Anak-Anak Marginal Senang di Jalan - Tuminesia - Baru Juga Cerdas

Panas

Post Top Ad

01 May 2018

Cegah Anak-Anak Marginal Senang di Jalan

Riuh suara tawa memecah Jatinegara di pagi hari. Ada yang tidak biasa dari hari itu selain cuaca yang cenderung lebih teduh.

Mencegah Anak-Anak Marginal Senang di Jalan


Anak-anak tahu mereka seharusnya tidak berada di bangunan sekolah swasta. Pertama, karena hari ini adalah Minggu, kedua, karena mereka tidak bersekolah—paling tidak, tidak semua, dan kebanyakan sekolah informal. Terakhir, karena mereka seharusnya mengamen.

Tetapi yang terjadi hari itu adalah, seseorang meminta mereka untuk berkumpul di SD Ksatria Bangsa Primay School. Jadilah mereka yang tinggal tak jauh dari situ datang dengan baju rumahan, sandal, dan tas ransel kecil berisi buku tulis dan pensil hanya sampai teras. Ada tikar panjang membentang yang telah menyambut mereka untuk duduk bertamu.

Kemudian, seorang wanita bertudung merah muda datang dengan senyum mengembang. 

Namanya Wida Agustina (19), atau akrab dipanggil Kak Wida. Sambil mengeluarkan notebook kecil dan menyiapkan animasi Si Kumbi, Wida memecah keheningan.

“Sebelum kita nonton, yuk ikut Kakak tepuk fokus dulu. Tepuk fokus...”

Suaranya lantang.

***

Wida adalah salah satu relawan yang bertugas menemani anak-anak marginal bermain hari itu. Permainan yang biasa mereka lakukan adalah permainan edukatif, seperti Cabut Wortel dengan berhitung, Kotak Pos Kejujuran, serta menonton animasi Si Kumbi sambil menanamkan nilai-nilai antikorupsi.

Mencegah Anak-Anak Marginal Senang di Jalan
Wida menonton kartun bersama anak-anak marginal

Dalam melakukan tugasnya, Wida biasa ditemani Zahra Muhammad Arfa (21). Temannya itu adalah relawan lain dari Citayam, yang menempuh perjalanan jauh hanya untuk menemani anak-anak bermain.

Kendati demikian, tak terlihat sedikit pun lukisan letih pada kedua wajah mereka. Begitu pun dengan anak-anak yang turut bermain bareng mereka. 

Padahal biasanya, anak-anak itu malang-melintang untuk mencukupi diri sendiri atau sekadar ingin bersenang-senang.

Mencegah Anak-Anak Marginal Senang di Jalan


Itu pula yang menjadi tujuan relawan program Tali Integritas Budaya Mandiri untuk menemani mereka hari ini, yaitu "mencegah anak-anak senang di jalan". 

Jalanan begitu luas, berliku, menawarkan kesenangan fana melalui uang yang tak bisa menjamin kehidupan mereka di masa depan. Menurut data yang dihimpun Tuminesia dari Kompas.com, anak-anak jalanan mampu berpenghasilan hingga Rp200 ribu per hari. 

Jalanan menjadi “ladang harta” yang dapat membahagiakan mereka tetapi juga memperpanjang rantai kemiskinan. Tidak hanya itu, “kemewahan” yang diberikan jalanan rupanya menjauhkan mereka dari pendidikan.

Lantas, apakah uang tersebut dapat menjadikan mereka kaya?

Sayangnya, tidak. 

Tidak ada pengetahuan manajemen keuangan yang membuat mereka mampu mengolah uang. Pada akhirnya, uang ngamen hanya dihabiskan untuk kebutuhan jangka pendek yang memaksa mereka untuk mencarinya lagi esok hari.

Menolong Mereka Sebagai Teman


Mencegah Anak-Anak Marginal Senang di Jalan


“Manusia adalah makhluk sosial dan yang paling sempurna, kenapa tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk sesama? Saya hanya ingin berbuat lebih untuk banyak orang dan makhluk hidup lain, agar yang semula tidak tahu menjadi tahu,” jelas Zahra kepada Tuminesia.

Dengan niat tersebut, Zahra membuka diri dan mulai berbaur dengan anak-anak marginal. 

Baginya, bermain dapat menghapus kesenjangan yang dulu tercipta antara mereka dan dirinya sebelum jadi relawan. Zahra ingin menjadikan diri setara dengan anak-anak marginal, mendengar cerita mereka, serta memberi mereka “bekal” yang nilainya lebih absolut daripada uang.

“Saya selalu ingin anak-anak senang dan pertemuan kami berkesan. Saya selalu berharap, permainan itu berhasil menanamkan paling tidak satu (dari sembilan) nilai antikorupsi yang dapat mereka praktikkan," katanya.

"Misalnya, mereka bisa saling mengingatkan temannya yang ketahuan berbohong. Mereka mulai peduli dengan teman dan keluarganya, juga bisa cerita apa saja yang mereka pelajari ke orangtuanya agar orangtuanya juga bisa mempraktikkan hal yang sama,” tegas mahasiswi Universitas Pakuan itu. 

Sekarang semua terjawab

Hadirnya orang-orang seperti Wida dan Zahra merupakan bukti majunya pengetahuan dan kesadaran untuk bergerak; bahwa ada cara lain untuk memperbaiki kehidupan anak marginal selain dengan memberi mereka uang.

Menjadi relawan mungkin tidak memberi gratifikasi secara langsung yang dapat memuaskan anak jalanan seperti halnya uang. Tetapi menjadi relawan dapat membuka lebar-lebar kepekaan kita sebagai sesama manusia terhadap apa yang mereka butuhkan dan apa yang dapat kita berikan.


Mencegah Anak-Anak Marginal Senang di Jalan
Wida bermasa para sahabatnya



Feature ini ditulis oleh: Elva Mustika Rini
Semua foto spesial oleh: Elva Mustika Rini

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!