Perjuangan RA Kartini Belum Usai - Tuminesia - Baru Juga Cerdas

Panas

Post Top Ad

21 April 2018

Perjuangan RA Kartini Belum Usai

Perjuangan RA Kartini


Perjuangan Raden Adjeng (R.A) Kartini untuk memajukan martabat wanita belum usai. Para pemuda masa kini harus bisa melanjutkan semangatnya. Pelecehan terhadap wanita harus diperangi dan pembentukan mental 'pejuang' harus ditanamkan kepada para wanita kini dan nanti.

Hidup RA Kartini bermula sejak ia lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dari keluarga bangsawan. Umurnya termasuk singkat karena Kartini meinggal pada usia 25 tahun di Rembang, Jawa Tengah, pada 17 September 1904.

Ayahnya bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai Bupati Jepara. Kartini sendiri lahir saat Ario (Kakeknya) masih menjabat sebagai Bupati Jepara, sehingga kelahirannya termasuk disorot saat itu.

Adapun ibu Kartini bernama M.A. Ngasirah. Ia adalah anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Kota Jepara --bukan keturunan bangsawan, melainkan hanya rakyat biasa saja. Namun karena peraturan kolonial Belanda saat itu mengharuskan seorang Bupati menikah dengan sesama bangsawan, ayah Kartini terpaksa mempersunting seorang wanita lain bernama Raden Adjeng Woerjan.

Ibu tiri Kartini itu seorang bangsawan dan keturunan langsung Raja Madura. Pernikahan itu pun berhasil dan memberi Kartini tambahan saudara jadi 11 bersaudara yang terdiri dari saudara kandung dan saudara tirinya.

Perjuangan RA Kartini
Sekolah RA Kartini (foto: mutiararahmah.com)

Kartini terus bertumbuh dan bersekolah di Europese Lagere School (ELS) sehingga menguasai bahasa Belanda. Hingga ia lulus di usianya 12 tahun, lalu ingin melanjutkan studinya.

Namun keinginannya untuk terus belajar itu dilarang oleh ayahnya. Perdebatan sengit pun terjadi antara Kartini dan Sosroningrat.

Perjuangan RA. Kartini pun dimulai.

Ayahnya saat itu terus memaksa Kartini tinggal di rumah karena dianggap layak menikah. Selama tinggal di rumah itulah Kartini kecil mulai menulis surat-surat kepada teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda.

Ia mencurahkan keluh kesahnya soal rendahnya apresiasi terhadap hak wanita di Indonesia. Kartini juga sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa tidak pernah sekolah sama sekali.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita Tanah Air belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria. Bahkan, para wanita belum diijinkan menentukan jodoh atau suaminya sendiri.

Kartini kemudian mengenal Rosa Abendanon, yang terus mendukung rencananya. Abendanon memberikan Kartini buku-buku dan koran Eropa yang menunjukkan kemajuan wanita Eropa dalam berpikir.

Api semangat Kartini untuk mewujudkan hak wanita pun semakin membara. Kartini juga mulai banyak membaca De Locomotief, surat kabar dari Semarang milik Pieter Brooshoof. Koleksi paket majalah leestrommel yang isinya tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan pun dimilikinya.

Kartini kecil semakin cerdas dan sering menulis. Beberapa tulisannya ia kirimkan kepada salah satu majalah wanita Belanda, yaitu De Hollandsche Lelie.

Dari tulisan-tulisannya itu, terlihat jelas bahwa Kartini selalu membaca segala hal dengan detil. Ia sampai melampirkan judul sebuah karangan dan kerap menampilkan kutipan-kutipan kalimat yang pernah ia baca. Hal itu karena setiap membaca, Kartini selalu membuat catatan kecil pribadinya.

Selama belum menginjak umur 20 tahun itu, ia sudah membaca buku-buku seperti De Stille Kraacht milik Louis Coperus, Max Havelaar, dan Surat-Surat Cinta yang ditulis Multatuli, hasil buah pemikiran Van Eeden.

Kartini juga membaca roman-feminis yang dikarang oleh Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan buku Die Waffen Nieder, yang merupakan roman anti-perang karya Berta Von Suttner. Semua buku itu berbahasa Belanda.

Terpaksa Menikah


Pada tanggal 12 November 1903, Kartini (24 tahun) akhirnya menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Bukan karena jatuh cinta, melainkan dipaksa oleh orangtuanya. Suaminya pun sudah memiliki istri sebelumnya.

Perjuangan RA Kartini
Kartini dan suaminya (1903)

Meski begitu, suaminya sangat mengerti cita-cita Kartini. Adipati memperbolehkan Kartini membangun sebuah sekolah wanita. 

Kegiatan Kartini di sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya. Mereka mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Selama pernikahannya, Kartini hanya memiliki satu anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Pernikahannya tak bertahan lama karena Kartini (25 tahun) sudah menghembuskan nafas terakhirnya 4 hari setelah melahirkan anak satu-satunya itu.

Meski begitu, wafatnya Kartini tidak serta-merta mengakhiri perjuangannya. Hal itu karena salah satu temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon, berhasil mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa.

Abendanon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku ini diterbitkan pada 1911 dan sempat mengalami revisi karena ada sebuah surat “baru” dari Kartini.

Pemikiran-pemikiran Kartini dalam surat-suratnya tidak pernah bisa dibaca oleh beberapa orang pribumi yang tidak mengerti bahasa Belanda. Hingga pada 1922, Balai Pustaka menerbitkan versi translasi buku Abendanon itu dan diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran” dengan bahasa Melayu.

Baru pada 1938, salah satu sastrawan bernama Armijn Pane, yang masuk dalam golongan Pujangga Baru, berhasil menerbitkan versi Indonesia-nya dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya Pane ini terbagi dalam lima bab. Tujuannya untuk menunjukkan cara berpikir Kartini yang terus berubah.

Beberapa translasi buku Habis Gelap Terbitlah Terang dalam bahasa lain juga bermunculan. Hal ini dilakukan agar tidak ada yang melupakan sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya itu.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi jika Tuhan memberikan usia yang panjang kepadanya.

Kartini Jadi Pahlawan


Mengingat besarnya jasa Kartini pada Indonesia, maka atas nama negara, Presiden RI ke-1 Soekarno, mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964. Putusan itu menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, sebagai hari besar yang diperingati setiap tahun.

Terlepas dari Kartini, pahlawan wanita lain di Indonesia seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya juga perlu diapresiasi. Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda.

Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Manado dan lainnya. Mereka berjuang dengan pendidikan, organisasi, maupun cara lainnya.

Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan wanita yang patut dihormati dan teladani.

Perjuangan RA Kartini Belum Usai


Kini kaum wanita Indonesia telah menikmati apa yang disebut persamaan hak yang diperjuangkan R.A Kartini. Namun perjuangan belum berakhir. Sisa-sisa dari kebiasaan lama, seperti pria yang tidak rela melepaskan sifat otoriternya, maupun wanita yang belum berani melawan, masih ada.

Wanita masa kini bertugas untuk mempertahankan dan mengembangkan perjuangan Kartini. Perempuan harus bisa peduli pada hak dan kewajiban setiap orang, membuat pergerakan demi kemajuan bangsa, dan tidak lagi menganggap dirinya lemah tak berdaya.

Untuk itu, tuminesia mengucapkan semangat bagi kalian para wanita, dan Selamat Hari Kartini semua!


Perjuangan RA Kartini
foto: informasitips.com


Sumber: ppmkp.bppsdmp.pertanian.go.id, finansialku

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!