Ignatius Slamet Riyadi, Letkol Muda nan Berani - Tuminesia - Baru Juga Cerdas

Panas

Post Top Ad

02 April 2018

Ignatius Slamet Riyadi, Letkol Muda nan Berani

Ignatius Slamet Riyadi, adalah seorang pahlawan nasional asal Solo. Letkol ini tewas di usianya yang sangat muda, 23. Hidupnya berakhir saat memimpin misi Operasi Senopati untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada tahun 1950.

Bersama anggota APRI (sebutan TNI waktu itu), Slamet Riyadi mengaku kesulitan melawan para pemberontak. Pasalnya, pasukan RMS diperkuat dua kompi eks-KST (Korps Speciale Troepen) dan para penembak jitu (sniper). Gerak pasukan APRI saat itu jadi terhambat akibat banyaknya korban berjatuhan.

Letnan Kolonel Slamet Riyadi saat itu mengungkapkan, perlu dilakukan pembentukan pasukan komando yang mampu diandalkan, terampil bertempur di segala medan, punya kemampuan tempur individu yang tangguh, dan mahir menggunakan berbagai jenis senjata.

Kalau operasi ini selesai, saya ingin membentuk pasukan khusus yang setangguh pasukan baret hijau Belanda seperti yang kita hadapi saat ini,

Gagasan tersebut segera disampaikan kepada Kolonel A.E. Kawilarang, seorang Panglima Tentara dan Teritorium VII/Indonesia Timur yang juga ikut serta dalam Operasi Senopati. Pasukan idaman itu pun dibentuk dengan nama Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi (Kesko TT) --yang kini disebut RPKAD/Kopassus. 

Namun sayang, Letnan Kolonel Slamet Riyadi tidak sempat menikmati gagasannya itu. Ia gugur saat Operasi Senopati hampir rampung, pada 4 November 1950. 

Biografi Slamet Riyadi


Biografi Singkat Ignatius Slamet-Riyadi
Ignatius Slamet Riyadi (foto: Wikipedia)

Slamet Riyadi lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 26 Juli 1927. Saat itu namanya bukanlah Slamet Riyadi, melainkan Soekamto.

Ayahnya adalah Raden Ngabehi Prawiropralebdo, seorang abdi dalem sekaligus perwira di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sementara ibunya, Soetati, membantu kehidupan rumah tangga dengan berjualan buah.

Melansir dari buku Mengenang Ignatius Slamet Riyadi, Brigadir Jenderal Anumerta, saat masih berusia 1 tahun, Soekamto sering sakit-sakitan. Tubuh kecilnya kurus kering, dan fisiknya sangat lemah.

Melihat itu, keluarga Soekamto pun panik. Orang tuanya pun memilih mengatasi kondisi Soekamto dengan cara tradisi Jawa. Mereka “menjualnya” kepada salah satu kerabat, yakni pamannya yang bernama Warnenhardjo.

Untuk diketahui, mereka tinggal tidak jauh dari lingkungan Kraton Solo dan menganut ajaran Kejawen. 

Setelah "dibeli", nama Soekamto diganti agar terhindar dari marabahaya. Nama yang dipilih adalah Slamet. Harapannya jelas, agar Soekamto terus dilingkupi keselamatan dalam hidupnya.

Meski secara adat, Soekamto alias Slamet sudah menjadi anak dari Warnenhardjo, ia tetap tinggal bersama ayah dan ibunya. Slamet baru boleh meninggalkan orang tuanya saat remaja, dan harus "dibeli" lagi oleh ayahnya seperti tradisi yang berlaku.

Adapun nama panjang "Riyadi" diperoleh saat Slamet duduk di bangku sekolah menengah (SMA) milik Mangkunegaran di Solo. Nama tersebut diberikan karena terlalu banyak siswa yang bernama Slamet di sana.

Ia pun lulus SMA pada 1942. Saat itu Belanda baru saja kalah dari Jepang yang kemudian mengambil-alih wilayah Indonesia

Slamet yang saat itu baru berusia 15 tahun, memutuskan merantau ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan di akademi kelautan milik pemerintahan militer Jepang. Hingga suatu malam di dekat Stasiun Gambir, Slamet Riyadi berjumpa dengan para pejuang "diam-diam" yang berharap bisa mengusir Jepang.

Hingga saat Jepang kalah oleh Sekutu dalam Perang Dunia II, Slamet Riyadi pun mengajak rekan-rekannya sesama pelaut untuk memberontak. Mereka berhasil membawa kabur kapal milik Jepang, serta menggalang kekuatan dari para prajurit Indonesia yang sebelumnya tergabung dalam kesatuan militer bentukan Dai Nippon.

Slamet Riyadi terus berjuang hingga kembali ke Solo untuk membantu memerdekakan rakyat di sana. Perjuangan terus berlanjur hingga Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Setelah itu, ia sepenuhnya ingin mempertahankan kemerdekaan RI. Belanda, yang ingin kembali menjajah Indonesia, adalah lawan selanjutnya.

Slamet Riyadi langsung menempati posisi sentral dalam berbagai aksi perjuangan melawan Belanda. Di antaranya Agresi Militer Belanda I dan II yang masing-masing terjadi pada 1947 dan 1949.

Slamet Riyadi (tengah), menandatangani penyerahan kota Solo dan Pacitan dari Belanda ke pasukan Republik di Stadion Solo 12 November 1949. Belanda diwakili oleh Kolonel van Ohl, tampak Mayor Jendral Mollinger dibelakang keduanya. Letkol Slamet Rijadi sebelumnya memimpin Serangan Umum Surakarta melawan pasukan Kol. van Ohl, pada 7-10 Agustus 1949.- foto: www.hobbymiliter.com


Di tengah perjuangan dan kemenangan-kemenangan perangnya itu, Slamet Riyadi dibaptis di Gereja Santo Antonius Purbayan Solo. Ia diberi tambahan nama baptis yaitu "Ignatius". Otomatis, namanya menjadi Ignatius Slamet Riyadi.

Hingga akhirnya, ia tewas pada 4 November 1950. Perutnya terkena berondongan peluru di depan gerbang Benteng Victoria, Kota Ambon. 

Ia sempat dilarikan ke rumah sakit darurat di atas kapal di perairan Tulehu, Maluku Tengah. Namun, Tuhan berkehendak lain, pukul 11 malam Slamet Riyadi menghembuskan nafas terakhirnya.

Sang perwira muda ini dimakamkan di Tulehu atas permintaan masyarakat setempat. Sedangkan sebagian tanah kuburnya dibawa ke Surakarta untuk disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Solo.

Untuk diketahui

Slamet Riyadi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 9 November 2007. Letkol muda nan berani ini sungguh berjasa bagi kemerdekaan Indonesia dan persatuan bangsa. Terimakasih Slamet Riyadi!

Profil 

Nama Lengkap : Ignatius Slamet Rijadi

Alias : Slamet Rijadi

Agama : Katolik

Tempat Lahir : Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Tanggal Lahir : Selasa, 26 Juli 1927

Zodiac : Leo

Warga Negara : Indonesia

Istri : Soerachmi


Sumber: Tirto.id, Ublik.id, Hobbymiliter.com, Merdeka.com

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!