Horor Indonesia Sejak 1934 - Tuminesia - Baru Juga Cerdas

Panas

Post Top Ad

05 March 2018

Horor Indonesia Sejak 1934



Aristoteles mengatakan, manusia memang senang dengan kisah-kisah seram penuh kekejaman karena bisa membawa katarsis atau kelegaan emosional. Semua kisah seram akan semakin mencekam jika dikemas ke dalam film sehingga menjadi imaji yang mengganggu pikiran.

Film Horor memang cenderung laku di pasaran. Hal itu wajar karena menurut seorang psikoanalisis, Sigmund Freud, horor adalah tentang hasrat terpendam manusia di bawah alam sadar.

Seperti di Indonesia, film horor telah memikat banyak rakyatnya. Saat pertama kali muncul, Indonesia masih bernama Hindia Belanda.

Film Pertama Pengaruhi Pilihan Rakyat


Kisah seram yang paling pertama di Indonesia berjudul Doea Siloeman Oeler Poeti en Item (1934). Kisah ini menjadi film kedua di Indonesia setelah film pertama Indonesia yakni Loetoeng Kasaroeng (1926), karya G Kruger dan L Heuveldorp dipasarkan.

gambar oleh cinemapoetica.com
Sutradara film Doea Siloeman Oeler Poeti en Item adalah Then Teng Chun. Ia memproduksi film ini bersama Cino Motion Pictures. Kisahnya sederhana, yaitu soal dua siluman yang ingin menjadi manusia.

Sebenarnya, film Doea Siloeman Oeler Poeti en Item atau bisa juga disebut Ouw Peh Coa ini, bukanlah kisah baru. Kisah yang sama sempat beredar dalam buku karangan Lim Ho Hin (1883) dan Tjiong Hok Long (1885) sebelumnya. Buku itu sangat digemari masyarakat peranakan Cina dari golongan timur asing. Bahkan, data dari Tzu You mengklaim rombongan opera Soei Ban Lian sempat mementaskan Ouw Peh Coa pada 1911.

Semenjak saat itu, film-film horor di Indonesia mulai sering menampilkan kisah-kisah legenda rakyat Cina. Selain karena Then Teng Chun, rata-rata pemilik perkumpulan sandiwara adalah orang keturunan Cina. Hal itu jugalah yang mempengaruhi selera masyarakat soal film ingin ditonton.

Mulai Berkembang


Perkembangan film horor begitu pesat berubah setelah film Terang Boelan produksi Nederlandsch Indie Film Syndicaat dan disutradarai oleh Albert Balink sukses di pasaran. Saat itu, mereka memakai pemain-pemain sandiwara untuk filmnya.

Melihat itu, Then Teng Chun yang memang ahlinya film horor, melihat peluang dari cara Albert Balink tersebut. Ia mulai mengajak Ferry Kock dan Dewi Mada dari Dardanella untuk bermain di film-filmnya.

Pada rentang 1940 sampai 1941, perusahaan Then Teng Chun yakni Java Industrial Film, berhasil memproduksi 15 film. Salah satunya berjudul Tengkorak Hidoep (1941) karya Tjoe Hock.

Film Tengkorak Hidoep sangat laku di pasaran. Selain karena efek petir dan tengkorak begerak, kisahnya juga menarik, yakni tentang perjalanan eorang pendekar ke pulau angker.

1971, Saatnya Ratu Horor Indonesia


Setelah sempat fakum karena penjajahan Jepang dan konflik pengakuan kemerdekaan dengan Belanda, perfilman Indonesia kembali bergeliat pada 1949. Saat itu ada 23 film diterbitkan dan terus bertambah hingga 40 judul sampai 1951.

Namun, kembalinya film horor di Indonesia baru muncul pada 1971. Saat film berjudul Lisa karya M Syarieffudin dan film Beranak dalam Kubur karya Awaludin dan Ali Shahab mulai muncul di permukaan.

Suzanna, aktris legenda pefilman horor Indonesia, memulai debutnya di film Beranak Dalam Kubur itu. Ia begitu menakutkan, perannya begitu mencekam, mata tajamnya menghantui pikiran. Wajar, jika ia dijuluki 'ratu horor Indonesia'.

gambar oleh cinemapoetica.com

Keuntungan besar-besaran berhasil diraih PT Tidar Jaya, selaku rumah produksi film Beranak dalam Kubur. Modal yang mereka keluarkan diperkirakan hanya Rp25-35 juta, namun untungnya mencapai Rp72 juta.

Hasil menggiurkan itulah yang membuat perusahaan lainnya memunculkan film horor juga. Tak tanggung-tanggung, ada 22 judul film horor bermunculan pada 1972 sampai 1980. Tak berhenti di situ, angkanya melonjak hingga empat kali lipat setelah satu dekade berlalu.

Film-film itu tak lepas dari peran 'ratu horor Indonesia'. Pada 1981 sampai 1991, dari setidaknya 84 judul film horor yang ada, 16 di antaranya dibintangi Suzanna.

Orde Baru dan Film Horor


Rezim Soeharto begitu ketat membatasi media massa. Berbagai media hiburan dan informasi seperti koran, radio, televisi, bahkan film pun dipantau dengan ketat oleh militernya.

Namun di tengah pembatasan ketat itu, justru perfilman horor Indonesia tumbuh pesat. Saat itu, hantu-hantu khas Indonesia mulai bermunculan. Seperti kuntilanak, sundel bolong, genderuwo, pocong, dan Nyi Roro Kidul.

Suzanna pun semakin digandrungi karena kencantikannya. Untuk diketahui, film-film pada 1970-1990-an itu identik dengan seks, kekerasan, dan komedi. Berbagai adegan panas berani dilakoni Suzanna. Ditambah bang Bokir yang menjadi bumbu lucu di dalamnya, film-film seperti Sundel Bolong (1981), Nyi Blorong (1982), Malam Jumat Kliwon (1986), Ratu Buaya Putih (1988) dan Wanita Harimau (1989) pun sukses di pasaran.


Humor memang menjadi salah satu bentuk pemberontakan yang 'aman' saat itu. Maka wajar, bila film horor bisa begitu digandrungi.

Film Indonesia semakin menguasai pada zaman Soeharto ini. Pasalnya, film impor dibatasi bahkan sampai hanya 200 judul saja pada 1982-an.

Namun, pembatasan itu juga diiringi Kode Etik Produksi Film Indonesia sejak 1981. Aturan itu mewajibkan produksi film nasional untuk senantiasa menjaga moral bangsa. Alhasil, tokoh-tokoh agama kerap muncul dalam film horor demi mewujudkan nilai-nilai moral tersebut.

Film Horor 2000-an Masih Seksi


Sasha Grey dalam Pocong Mandi Goyang Pinggul (foto: cinemapoetica.com)
Rezim Orde Baru memang penuh aturan, namun aturan itu menimbulkan pandangan negatif dan kecurigaan pada kehidupan modern. Film-film saat itu jadi cenderung berlatar pedesaan dan kisah-kisah kota hanya sekilas saja.

Semua itu membuat jenuh para penikmat film. Apalagi pada 1990-an, sejumlah stasiun televisi swasta nasional mulai bermunculan. Seperti RCTI, SCTV, ANTV, TPI dan Indosiar. Mereka berhasil membuat hiburan baru bagi masyarakat dan membuat para pekerja film hijrah ke industri televisi.

Dunia perfilman pun semakin sakit setelah krisis ekonomi menghantam Indonesia dan berujung runtuhnya rezim Orde Baru Soeharto pada Mei 1998. Saat inilah, pertelevisian mulai memperkenalkan reality show horor ala mereka. Seperti  Dunia Lain di Trans TV, Uka-Uka di TPI, Ekspedisi Alam Gaib di TV7, hingga Pemburu Hantu di Lativi.

Saat pertelevisian mulai menguasai dunia horor, Jose Poernomo dan Rizal Mantovani mengambil sudut yang berbeda. Mereka berdua justru memproduksi film horor dengan judul Jelangkung pada 2001.

Hanya perlu dua minggu untuk pengambilan gambar dan produksi sekitar Rp1 miliar, film ini berhasil mendatangkan 1,5 juta penonton di seluruh Indonesia. Film horor ini berhasil menyaingi kesuksesan Petualangan Sherina (2000) karya Riri Riza yang menghabiskan biayar Rp2 miliar.

Film Jelangkung sebenarnya terinspirasi dari kisah-kisah uji nyali di televisi. Kisahnya tentang empat sekawan asal Jakarta yang terbawa rasa penasaran mencari penampakan setan hingga ke desa Angkerbatu, Jawa Barat. Di sana mereka melakukan ritual jelangkung untuk memanggil arwah yang berujung pada kemunculan berbagai peristiwa mistis nan mencekam.

Tren film sejenis itu pun mulai digemari para anak muda. Film-film serupa bermunculan seperti Hantu (2007) karya Adrianto Sinaga, Pulau Hantu (2007) karya Jose Purnomo ataupun Air Terjun Pengantin (2009) karya Rizal Mantovani.

Film-film itu masih menggunakan cara klasik, yaitu menambahkan bumbu-bumbu seks dan komedi ke dalamnya. Wanita-wanita seksi dan "badut-badut" pencair suasana kerap berkolaborasi di dalamnya. Contohnya, Melanie Ariyanto dan Rony Dozer dalam Jelangkung (2001), Nia Ramadhani dan Mastur dalam Suster Ngesot (2007), serta Dewi Persik dan Rizky Mocil dalam Setan Budeg (2008).

Bumbu seks dan komedi pun semakin menggila. Artis film porno luar negeri diajak juga sebagai pemeran film-filmnya horor Indonesia. Seperti Rin Sakuragi di film Suster Keramas (2009), Maria Ozawa dalam Hantu Tanah Kusir (2010), Sora Aoi dalam Suster Keramas 2 (2011), Tera Patrick di Rintihan Kuntilanak Perawan (2010), dan Sasha Grey dalam Pocong Mandi Goyang Pinggul (2011).

Ongkos murah, penonton banyak, keuntungan pasti didapat. Hal-hall inilah yang membuat perfilman Indonesia pada 2007-2015 didominasi film bergenre horor sejenis itu.

Di sisi lain, film-film horor yang menampilkan tempat-tempat seram tertentu juga bermunculan. Beberapa tempat wisata misteri pun diangkat dalam film, seperti dalam film Hantu Jeruk Purut (2006), Rumah Kentang (2012), Mall Klender (2014), ataupun Taman Langsat Mayestik (2014).

Film Horor Kini


Romansa film-film horor masa lalu mulai diangkat kembali. Masa jaya 1981 sampai 1991 kembali dikenang bahkan diolah lagi. Salah satunya adalah film tahun 1982 yang kembali dibuat oleh sutradara Joko Anwar, yakni Pengabdi Setan.

Foto idea.grid.id
Film Pengabdi Setan versi 1982 disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra. Joko Anwar begitu berambisi sampai mengejar izin produksi ulang film ini selama 10 tahun lamanya.

Usaha Joko Anwar pun tak sia-sia, terbukti 4,2 juta penonton mau menyaksikannya. Bahkan belakangan, pada Senin (19/2/2018), Joko Anwar mengumumkan bahwa Pengabdi Setan akan tayang di 42 negara, termasuk Belanda, Singapura, Thailand, Spanyol, dan Taiwan.

Keberhasilan Joko Anwar bukan tanpa alasan. Selain karena perkembangan teknologi yang semakin pesat untuk mewujudkan imajinasi, masyarakat juga rindu dan ingin tahu dengan film horor masa lalu.

Pengabdi Setan menjadi salah satu bukti film horor Indonesia mulai membaik kualitasnya. Selain Pengabdi Setan, juga ada Danur: I Can See Ghost pada 2017 yang juga sukses sebelumnya dengan 2,7 juta penonton selama penayangan.

Masyarakat kini semakin peduli dengan karya anak bangsa dan mulai percaya dengan kualitas perfilman Indonesia. Mereka tak lagi menunggu bajakan filmnya, tapi mulai mau menonton di bioskop-bioskop yang ada.

Sumber: Cinemapoetica, IDNTimes, Liputan6 

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!