Biografi Stephen Hawking Telah Usai - Tuminesia - Baru Juga Cerdas

Panas

Post Top Ad

21 March 2018

Biografi Stephen Hawking Telah Usai

Petualangan Stephen Hawking telah usai. Hawking terpaksa berhenti memperpanjang catatan biografi hidupnya pada usia 76 tahun. Ilmuwan paling berpengaruh abad 20 ini meninggal dengan tenang di rumahnya, wilayah Cambridge, Inggris.

Stephen Hawking diwawancarai
Stephen Hawking (foto: newscientist.com)

Hidupnya bermula pada 8 Januari 1942. Ayahnya seorang biolog, yakni Dr. Frank Hawking, sementara ibunya, Isobel Hawking.

Selama masih balita, Stephen William Hawking tinggal di London. Namun setelah Ayahnya mengepalai divisi parasitologi di National Institute for Medical Research pada 1950, Hawking dan keluarganya pindah ke St Albans, Hertfordshire.

Di sana, ia bersekolah di St Albans High School for Girls sejak 1950 hingga 1953. Saat itu, laki-laki dapat masuk ke sekolah perempuan hingga usia sepuluh tahun.

Stephen Hawking masih kecil
Hawking kecil (foto: pbs.twimg.com)

Penulis buku A Brief History of Time ini memang selalu antusias pada ilmu pengetahuan. Seorang guru matematikanya yang bernama Dikran Tahta, telah menginspirasinya untuk mempelajari ilmu pasti tersebut.

Ia pun memilih bidang keilmuan yang berhubungan dengan matematika saat memasuki masa kuliah. Sempat mempelajari tentang bintik matahari di Oxford, ia akhirnya keluar dan memilih teori yang lebih pasti.

Stephen Hawking remaja
Stephen Hawking remaja (foto: pbs.twimg.com)

Dengan kata lain, Stephen ogah mempelajari hal yang hanya berbau observasi. Meski begitu, Hawking tetap mendapat beasiswa dan berspesialisasi fisika pada 1962.

Ia pun memilih pindah ke Trinity Hall, di Cambridge, untuk mendalami astronomi teoretis dan kosmologi. Di tempat inilah nama Hawking melambung tinggi hingga dikenal dunia karena teorinya soal astronomi.

ALS Melumpuhkan Hawking


Saat di Cambridge, gejala sklerosis lateral amiotrofik (ALS) mulai dideritanya. Hawking yang masih 22 tahun, kehilangan hampir seluruh kendali neuromuskularnya. Dokter memprediksi, hidupnya hanya dapat bertahan selama 2 tahun.

Tapi saat krisis seperti ini, seorang wanita yang dicintai Hawking, bernama Jane Wilde, juga menyatakan cinta tulusnya. Mereka pun menikah pada 1965 dengan kondisi Hawking yang terus memburuk. Meski begitu, keduanya dikaruniai 3 orang anak.

Stephen Hawking dan Jade Wilde
Hawking dan Jane Wilde (foto: pbs.twimg.com)

Pada 1974, Hawking tak lagi bisa makan dan bangun tidur sendiri. Bicaranya pun tidak jelas sehingga hanya orang terdekat yang mengertinya.

Kondisinya semakin krisis, hingga pada 1985, ia terkena penyakit pneumonia dan harus dilakukan trakeostomi. Operasi tersebut berhasil, namun merenggut suaranya. Tapi di sisi lain, operasi ini juga yang berhasil memperpanjang umurnya.

Sempat berkomunikasi dengan cara yang rumit, Hawking akhirnya dibantu oleh seorang ilmuwan Cambridge. Ia berhasil membuat alat yang membantu Hawking menulis apa yang ingin dikatakan lewat bantuan sebuah komputer. Setelah itu, tulisannya akan otomatis dilafalkan komputer tersebut lewat teknologi voice synthesizer.

Meski ALS melumpuhkannya, karier ilmiahnya terus berlanjut hingga lebih dari empat puluh tahun. Buku-buku dan teorinya begitu melejit. Hawking layaknya selebritis akademik dan teoretikus fisika yang termasyhur di dunia.

Namun, saat terkenal itu juga Hawking harus bercerai dengan Jane Wilde pada 1991. Mantan istrinya itu mengaku tertekan dengan kondisi Hawking yang semakin terkenal serta tanggung jawabnya terhadap tiga orang anak mereka. Wilde pun menikahi pelayan gereja bernama Jonathan Hellyer Jones.


Cuplikan ini diambil dari film "The Theory of Everything"


Hingga pada 1995, Hawking menikahi perawatnya, Elaine Mason. Namun akhirnya bercerai juga pada 2006. Diduga, Mason menginginkan harta Hawking sehingga kerap menyiksa Hawking.

Namun Hawking menentang perlakuan tidak baik dari istrinya tersebut. "Saya secara tegas dan sepenuh hati menolak tuduhan-tuduhan bahwa saya telah menjadi korban kekerasan," ujar Stephen, seperti dikutip Heavy.

Soal Kepercayaan


Hawking adalah seorang agnostik. Ia terus mencari bukti-bukti keberadaan Tuhan. Dalam arti, ia ragu dengan adanya Tuhan. Ia bahkan menggunakan kata "Tuhan" (secara metaforis) untuk menggambarkan poin dalam buku-buku dan pidatonya.

Mantan istrinya, Jane Wilde, menyebut Hawking adalah seorang ateis saat terakhir kali mereka berumah tangga. Hawking menyatakan bahwa ia "tidak religius secara akal sehat" dan ia percaya bahwa "alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan".

Biografi Stephen Hawking
Stephen Hawking dewasa (foto: pbs.twimg.com)

Namun di sisi lain, ia tidak menutup kemungkinan hukum tersebut dibuat oleh Tuhan. Tetapi, menurutnya, Tuhan tidak mengintervensi pelanggaran hukum.

Hawking semakin ragu adanya Tuhan hingga membandingkan agama dan ilmu pengetahuan pada 2010.

"Terdapat perbedaan mendasar antara agama, yang berdasarkan pada otoritas, [dan] ilmu pengetahuan, yang berdasarkan observasi dan alasan. Ilmu pengetahuan akan menang karena memang terbukti," kata Hawking yakin.

The Telegraph pun melaporkan, "Stephen Hawking telah menyatakan bahwa Tuhan bukan pencipta alam semesta". Hawking menulis dalam bukunya, The Grand Design, bahwa hukum seperti gravitasi, tata surya bisa terus terbentuk sendiri.

Penciptaan spontan itulah yang menjadi alasan mengapa sekarang ada 'sesuatu' dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan manusia ada. "Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakan alam semesta," kata Hawking.

Biografi Hawking Usai


Stephen Hawking meninggal pada 14 Maret 2018. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di rumahnya di Cambridge, Inggris pada pagi hari.

Quotes Stephen Hawking
foto: www.goalcast.com

Petualangan Hawking dalam mengembangkan teori-teori bidang fisika kuantum serta astrofisika akhirnya berhenti. Ia patut menerima banyak penghargaan atas jasa-jasanya tersebut bahkan setelah catatan biografinya berhenti terukir.

Ia menginspirasi begitu banyak orang dan membuat sains begitu maju. Banyak fisikawan dunia yang akan merindukannya.

"Kepergiannya menyisakan kevakuman intelektual. Tapi itu tidak kosong. Pikirkan sebagai energi vakum yang bergerak dalam ruang dan waktu yang tidak terbatas," ujar astrofisikawan Amerika, Neil De Grasse Tyson, lewat akun Twitter-nya.


Biografi Stephen Hawking Usai
Stephen Hawking












Sumber: Fisikanet.lipi.go.id, Wikipedia, Biografiku, CNN

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!