Jangan Salahkan Pasar Kramat Jati - Tuminesia - Baru Juga Cerdas

Panas

Post Top Ad

24 February 2018

Jangan Salahkan Pasar Kramat Jati

Aroma khas ikan laut menyengat di sekitar Jalan Raya Bogor, Kramat Jati, Jakarta Timur. Bila berjalan dan melihat-lihat, kumpulan ikan itu juga membuat banyak kendaraan harus rela terjebak macet.

Masalah itu lah yang pasti ditemui di depan Unit Pasar Besar (UPB) Kramat Jati, pada malam hari pukul 21.00 WIB hingga pagi 05.00 WIB. Ikan-ikan lembab tak bernyawa tertata rapih di meja para pedagang kaki lima. “Ini kerang, udang nak, kembung, bawal,” ucap perempuan renta 90 tahun bernama Saripah, saat menyebutkan apa saja dagangannya.

Di sepanjang trotoar Kramat Jati ini para pedagang terlihat ramah menyapa para pembeli. Mereka tidak boleh sombong untuk mendapat rezeki. “Ayo ibu masih segar bu,” ucap Saripah lagi dengan logat asli Madura-nya.

Dok. tuminesia.com

Sayang, sudah sejak lama Saripah dan ratusan pedagang lainnya betah dengan status tak resminya. Pasalnya, PD Pasar Jaya, selaku pengelola pasar, tidak bisa memberikan lapak kosong lagi bagi mereka. Dari sedikitnya 1.800 lapak, semua penuh tak bisa ditempati.

Jangan Salahkan PD Pasar Jaya Kramat Jati

Para pedagang ikan itu bisa dibilang liar, kata Agus Lamun, selaku Manajer PD Pasar Jaya cabang Kramat Jati. Mereka mengambil wilayah luar dengan asal-asalan, menghasilkan cap jelek bagi pengelola pasar.

“Padahal tidak serta merta (dicap jelek) seperti itu, ya. Pasar Jaya hanya berkewenangan untuk melakukan pengelolaan terhadap areal pasarnya saja. Contoh nih, pasar nih, Kramat Jati, UPB Kramat Jati sekarang, ini kewenangan kita hanya di dalam areal kita,” ungka pria asli Betawi itu kecewa.

Menjamur, mereka bertambah banyak hingga tak bisa diatasi PD Pasar Jaya sendiri. Pemerintah provinsi, dalam hal ini gubernur DKI, pun ikut pusing menangani.  Hasilnya, muncul wacana pada 2017, sebuah tempat penampungan khusus disiapkan bagi mereka.

“Karena dampak ini bukan hanya bagi kita, tapi masyarakat pengguna jalan, lalu lintas, dan lain sebagainya,” ungkap Agus lagi berharap.

Lalu, jika bukan dibawah PD Pasar Jaya, pada siapa mereka bernaung? “Orang belakang,” kata salah satu pedagang. Dengan biaya cukup murah, 15.000 Rupiah per hari, mereka sudah boleh menjajakan dagangannya. Pengurus RT, RW, Keluarahan, Kecamatan, atau oknum setempat diduga mengurusi mereka selama ini.

Di balik semua itu, para pedagang turut membantu pengendara yang sedang bermacet ria untuk lebih dekat dengan jajanannya. Paling tidak, pengendara pasti menghampiri salah satu dagangan yang menjorok ke jalan.

Jika ditanya darimana ikan-ikan segar itu berada? Fauzan, seorang pedagang ikan 24 jam di sana, membeberkan rahasianya. “Indramayu,” ucap pria 40 tahun itu.

Truk besar pengangkut ikan akan datang setiap pukul 11 malam, rutin setiap harinya. Itu pun kalau tidak macet di perjalanan.  “Tergantung jalannya, kalau kejebak macet mah ya rada pagian nih jam 2 jam 3 (pagi), perjalanannya mah jauh. Apalagi kalau malem hari-hari libur perjalanan juga macet, jadi agak lambat datangnya juga ikan,” ucapnya sambil mengupas sisik ikan.

Inilah Pasar

Bila ke Pasar Kramat Jati, jangan hanya berdiri di luar gerbang. Maka anggapan pasar ini adalah pasar ikan bisa saja terlintas di pikiran. Jadi coba lah melihat ke dalam area pasar, sudah dipenuhi berbagai dagangan.

Mulai dari bumbu dapur, sayur-sayuran, daging empuk, hingga buah-buahan segar, dari pagi hari hingga gelap malam. Belum lagi perhiasan hingga kain-kain yang bisa jadi pakaian. Dagangan itu tertata rapih sesuai kategori, mengikuti kebijakan Peraturan Daerah (Perda) nomor 2 dan nomor 8 soal tata kelola pasar.

Semakin ciamik karena sudah hampir terevitalisasi. Rupa gedung pasar mulai terlihat lebih berwarna dengan tembok kuning-hijau-birunya. Bergaris-garis teratur, seperti jadwal tertulis yang harus dituruti pedagang lainnya. Yakni malam-pagi untuk pedagang kaki lima di area parkiran, siang-sore untuk pedagang tetap di ruko dalam gedung bertingkat empat, dan pedagang resmi lainnya yang diperbolehkan buka lebih lama, karena masih perlu pembeli kantoran.

Mereka diatur, agar tidak ada benturan kepentingan antar pedagang. Seperti pola pikir pedagang kaki lima yang senang menghampiri, tak boleh disatukan dengan pedagang ruko yang senang menunggu pembeli.

“Tapi kadang mereka suka nakal juga maunya dateng duluan gitu kan,” tanyaku ke pihak keamanan.

“Iya itulah pasar,” jawabnya wajar.

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!