Cara Cerdas Sebelum Percaya Media - Tuminesia - Baru Juga Cerdas

Panas

Post Top Ad

16 February 2018

Cara Cerdas Sebelum Percaya Media



Media massa harus menyajikan informasi sesuai fakta. Tidak boleh mengada-ada, mengubah makna, apalagi menyajikan imaji surga. Namun, apakah media saat ini benar-benar melakukannya?

Media dalam bahasa latin disebut Medius yang berarti ‘tengah’. Maka media hanya berperan sebagai perantara bukan pembicara.

Pemirsa media harus lebih kritis dalam menyikapi informasi yang disajikan. Bisa saja ada yang dikurang-kurangi atau dilebih-lebihkan, demi menyenangkan sejumlah golongan.

Lalu, bagaimana pemirsa menilai kebenaran informasi dari media? Berikut cara cerdas memeriksa kebenaran berita sebelum Anda percaya pada suatu media, seperti dilansir Tuminesia dari Remotivi:

1. Kenali Reputasi Medianya


Lihatlah kembali apakah media itu pernah memberitakan sesuatu yang Anda saksikan sendiri, tetapi malah disajikan dengan berbeda atau tidak akurat?

Misal, Anda pernah melihat kecelakaan, kebakaran, atau bencana alam. Saat kejadian, Anda ada di lokasi atau bahkan mengalaminya. Namun, setelah melihat berita di media, hasilnya malah cenderung berlebihan atau menampilkan cuplikan tertentu sehingga terlihat bombastis.

Atau Anda pernah melihat berita turunnya harga cabai, tapi kenyataannya di pasar belum turun sama sekali. Hal-hal seperti itu bisa menimbulkan kesalahpahaman seperti ilustrasi ini:

**Ada seorang ibu yang baru menonton berita televisi (TV) soal turunnya harga cabai. Ibu itu pun bersemangat pergi ke pasar setelah mengetahui kabar tersebut. 

Namun sesampainya di pasar, ia malah heran karena pedagang tetap memakai harga lama.

Ibu-Ibu: "Ah, orang di TV bilangnya sudah turun kok harganya!"

Pedagang: "Kalau di TV lebih murah, kenapa gak beli di TV aja bu?"**

Bila Anda menemukan media seperti itu, berarti sistem di dalam redaksinya bermasalah. Wartawannya tak dididik dengan benar dan atasannya tidak menerapkan sistem disiplin verifikasi.

Mengapa Media Bisa Seceroboh itu?

Bisa diduga, ada informasi yang ditutup-tutupi demi menyenangkan golongan tertentu. Golongan itu bisa pemilik media, pemasang iklan, partai, atau kalangan tertentu yang punya modal untuk 'menyewa' media.

2. Ketahui Sumber Informasinya

Cara kedua ialah, mengetahui sumber informasinya. Setiap media membutuhkan sumber informasi atau narasumber. Hal itu karena wartawan tidak boleh beropini sesuka hati.

Namun yang terjadi, wartawan kerap meminjam mulut seseorang untuk mewujudkan opininya. Mereka akan mencari beberapa narasumber untuk ditanyai sejumlah persoalan yang menjurus ke opini wartawan itu sendiri.

Misalnya, jika ada dua media yang sama-sama memberitakan kenaikan harga daging. Wartawan di media satu mewawancarai menteri pertanian atau menteri perdagangan, sementara wartawan di media dua mewawancarai pedagang daging.

Lalu,  siapa sumber informasi yang paling bisa dipercaya?

Jelas jawabannya adalah pedagang daging. Selain mereka lebih dekat dengan kenyataan di lapangan, masyarakat juga membeli daging di pasar bukan di kementerian.

Untuk itu, jangan terlalu percaya dengan jabatan narasumber. Lihatlah kredibilitas dan akurasi perkataannya. Jika narasumber terkait sering berbohong atau asal bicara, maka media yang mewawancarai narasumber seperti itu tak layak dipercaya.

Perhatikan Sumber Datanya Juga 

Selain narasumber, penikmat berita juga perlu memperhatikan sumber data yang disajikan. Rata-rata media yang asal menyajikan berita akan menulis sumber datanya dengan begitu misterius.

Contohnya: "Menurut sumber yang layak dipercaya", "Menurut informasi orang dekat", "Menurut desas-desus yang beredar", dan lain-lain yang tak jelas siapa sumber data itu sesungguhnya. Penikmat berita patut curiga, "Jangan-jangan media itu sendiri yang membuat desas-desus?"

3. Kenali Pemilik Media


Lihatlah siapa pemilik media-media yang menyajikan berita. Dengan begitu, Anda bisa memprediksi kepentingan pemilik media itu yang mungkin mengotori indpendensi berita. Berpihak atau mencela golongan tertentu?

Misalnya, pemilik media A punya perusahaan tambang. Maka medianya akan sering memberitakan hal-hal positif dari kerusakan alam yang padahal disebabkan oleh perusahaan itu sendiri.

Untuk itu, pemirsa perlu mencari tahu apakah suatu media dimiliki seorang politisi, pemilik partai, atau pemilik perusahaan tertentu. Tidak sulit mencari tahu siapa pemilik media tertentu. Sebagian besar bisa ditemukan di dunia maya (internet).

4. Keberimbangan


Tugas wartawan adalah menyajikan berita dari berbagai sudut pandang agar pemirsanya meraih kabar yang lengkap dan tidak salah paham. Dalam jurnalistik, ini disebut prinsip keberimbangan atau cover both side.

Contohnya, bila media satu menuding si B mencuri, mereka perlu bukti-bukti yang kuat. Selain itu, pihak si B, baik pelaku sendiri, pengacara, hingga kolega, harus diberikan ruang yang sama besarnya untuk berbicara.

Jika semua itu tak dilakukan, maka media terkait bisa disebut tak berimbang. Perlu dicurigai, mereka punya kepentingan atau masalah keredaksian di dalamnya.

Sekian beberapa cara yang bisa dilakukan masyarakat untuk memeriksa kebenaran media. Cerdaslah sebelum percaya media, maka Anda tidak mudah terbawa propaganda.


Sumber: Remotivi

Gambar utama: www.naukrinama.com

No comments:

Post a Comment

Yuk berikan sudut pandangmu soal bahasan ini!